Kebertahanan Tradisi Weton dalam Perjodohan di Masyarakat Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember Tahun 1974–2022

Authors

  • Nabila Istiqomah Universitas Udayana
  • I Kadek Surya Jayadi Universitas Udayana
  • Anak Agung Ayu Dewi Girindrawardani Universitas Udayana

DOI:

https://doi.org/10.55681/primer.v4i1.480

Keywords:

Kebertahanan, Weton, Perjodohan, Kencong, Masyarakat

Abstract

Penelitian ini mengkaji kebertahanan tradisi weton dalam perjodohan pada Masyarakat Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember pada rentang tahun 1974-2022. Weton, yakni hari kelahiran seseorang berdasarkan penanggalan Jawa, dipercaya masyarakat setempat sebagai penentu utama dalam menetapkan kecocokan pasangan sebelum pernikahan berlangsung. Kajian ini didasari oleh fenomena menariknya, di mana tradisi tersebut tetap dipertahankan meskipun masyarakat telah dihadapkan pada berbagai perubahan, mulai dari diberlakukannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan hingga pembatasan sosial akibat pandemi COVID-19 pada tahun 2020-2022. Berangkat dari persoalan tersebut, penulis merumuskan tiga permasalahan, yakni alasan bertahannya tradisi weton, bentuk-bentuk kebertahanannya, serta implikasinya bagi generasi muda dan masyarakat sekitar. Untuk menjawab hal itu, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan historis, meliputi konsep kontinuitas-perubahan dan kausalitas sejarah, guna menelusuri proses bertahannya tradisi dari masa ke masa. Data dihimpun penulis melalui wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat setempat, yang kemudian dilengkapi dengan sumber arsip dan dokumentasi lokal. Melalui penelitian ini, penulis menemukan bahwa tradisi weton tetap bertahan karena diyakini masyarakat sebagai warisan leluhur yang sarat nilai filosofis dan spiritual, sekaligus sarana menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Kebertahanan tersebut terlihat dari weton yang terus dijadikan syarat utama perjodohan, sekaligus kemampuannya beradaptasi di tengah situasi sosial yang berubah, termasuk pada masa pandemi. Temuan ini menegaskan bahwa nilai budaya lokal bersifat dinamis, terus menyesuaikan diri tanpa kehilangan esensi kulturalnya.

References

Aspers, P., & Corte, U. (2021). What is qualitative in qualitative research. Qualitative Sociology, 44(4), 599–608. https://doi.org/10.1007/s11133-021-09497-w

Braun, V., & Clarke, V. (2021). To saturate or not to saturate? Questioning data saturation as a useful concept for thematic analysis and sample-size rationales. Qualitative Research in Sport, Exercise and Health, 13(2), 201–216. https://doi.org/10.1080/2159676X.2019.1704846

Campbell, S., Greenwood, M., Prior, S., Shearer, T., Walkem, K., Young, S., Bywaters, D., & Walker, K. (2020). Purposive sampling: Complex or simple? Research case examples. Journal of Research in Nursing, 25(8), 652–661. https://doi.org/10.1177/1744987120927206

Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2024). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (5th ed.). SAGE Publications.

Danianta, P. B., Pudjibudojo, J. K., & Tondok, M. S. (2025). Kepercayaan masyarakat Desa Bono Kabupaten Tulungagung terhadap pitungan weton dalam pembuatan keputusan waktu pernikahan: Perspektif psikologi budaya. Jurnal Adat dan Budaya Indonesia, 7(2), 153–162. https://doi.org/10.23887/jabi.v7i2.101837

Endraswara, S. (2018). Falsafah hidup Jawa. Cakrawala.

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.

Hamilton, A. B., & Finley, E. P. (2020). Qualitative methods in implementation research: An introduction. Psychiatry Research, 283, Article 112629. https://doi.org/10.1016/j.psychres.2019.112629

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi (Rev. ed.). Rineka Cipta.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2020). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (4th ed.). SAGE Publications.

Nowell, L. S., Norris, J. M., White, D. E., & Moules, N. J. (2017). Thematic analysis: Striving to meet the trustworthiness criteria. International Journal of Qualitative Methods, 16, 1–13. https://doi.org/10.1177/1609406917733847

Rofiq, A. (2019). Tradisi slametan Jawa dalam perspektif pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Islam, 15(2), 93–109.

Sahlins, M. (1976). Culture and practical reason. The University of Chicago Press.

Saldaña, J. (2021). The coding manual for qualitative researchers (4th ed.). SAGE Publications.

Sidemen, I. B. (1991). Lima masalah pokok dalam teori sejarah. Widya Pustaka, 7(2), 30–41.

Smith, A. D. (1991). National identity. Penguin Books.

Tracy, S. J. (2020). Qualitative research methods: Collecting evidence, crafting analysis, communicating impact (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

UNESCO. (2003). Convention for the safeguarding of the intangible cultural heritage. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000132540

Williams, R. (1981). Culture. Fontana Press.

Yin, R. K. (2021). Case study research and applications: Design and methods (7th ed.). SAGE Publications.

Downloads

Published

2026-02-28

How to Cite

Nabila Istiqomah, I Kadek Surya Jayadi, & Anak Agung Ayu Dewi Girindrawardani. (2026). Kebertahanan Tradisi Weton dalam Perjodohan di Masyarakat Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember Tahun 1974–2022. PRIMER : Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 4(1), 16–29. https://doi.org/10.55681/primer.v4i1.480